Agar Konflik Tidak Merusak Rumah Tangga Anda

Friday, August 31, 2012

print this page
send email
Mungkin memang benar teori yang menyatakan bahwa konflik itu tidak bisa dihindari, karena potensi konflik ada dalam diri setiap orang. Dalam seluruh konteks, baik dalam keluarga, masyarakat, organisasi, atau negara. Coba saja perhatikan, ketika memulai sebuah rumah tangga baru, hari pertama dalam kehidupan mereka, sudah akan muncul potensi konflik, dari yang paling sederhana. “Hari ini kita masak apa?” Jawaban dari pertanyaan ini sudah bisa menyulut konflik.

Setiap orang punya selera makan yang berbeda. Citarasa masakan yang kita senangi selalu terpengaruh oleh citarasa masakan ibu kita dan citarasa kampung halaman masing-masing. Citarasa masakan orang Jawa berbeda dengan citarasa masakan Padang, berbeda pula dengan citarasa masakan Ambon. Sama-sama Jawa, citarasa masakan Jawa Timur berbeda dengan citarasa masakan Jawa Tengah. Sama-sama Jawa Tengah, citarasa masakan Solo berbeda dengan citarasa masakan Banyumas.

Sama-sama berasal dari daerah Solo, citarasa masakan ibu saya berbeda dengan citarasa masakan ibu isteri saya. Nah, ini masalah yang sangat sederhana, namun bisa memunculkan konflik apabila antara suami dan isteri tidak memiliki kemampuan untuk menahan diri dan berusaha saling menyesuaikan dengan harapan pasangan.

Sekedar urusan monosodium glutamat (MSG) sebagai bumbu masak, sudah bisa memunculkan konflik antara suami dan isteri. Suami dididik dalam lingkungan keluarga yang selalu menggunakan MSG dalam setiap masakan, sedang isteri dilahirkan dari lingkungan keluarga yang anti-MSG.

Itu baru masalah yang sederhana, sekedar citarasa masakan. Belum lagi menyangkut kebiasaan hidup, orientasi kehidupan, sampai pada masalah pendidikan anak, afiliasi partai politik, afiliasi ormas, dan lain sebagainya. Semua bisa menjadi potensi konflik, karena masing-masing pihak memiliki kecenderungan yang berbeda sejak dilahirkan.

Untuk itu, yang diperlukan adalah usaha sadar untuk mengelola potensi konflik, sehingga mengurangi peluang terjadinya konflik serta membuat konflik tidak menyebabkan hilangnya keharmonisan hubungan suami isteri. Di antara cara yang bisa dilakukan untuk maksud itu adalah dengan melakukan beberapa langkah berikut sebelum terjadinya konflik rumah tangga.

Sedia Payung Sebelum Hujan

Prinsip ini sangat tepat diaplikasikan dalam kehidupan rumah tangga. Sediakan payung sebelum musim hujan tiba, sediakan lilin sebelum pemadaman listrik oleh PLN, sediakan kedewasaan jiwa sebelum konflik tiba. Dalam kehidupan keluarga, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan sebelum datangnya konflik, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, milikilah kesepakatan dengan pasangan, bagaimana langkah keluar dari konflik
Ini contoh aplikasi dari prinsip sedia payung sebelum hujan. Kesepakatan antara suami dan isteri ini sangat penting dibuat di saat suasana nyaman dan tidak ada konflik. Buat “road map” atau “plan” bagaimana langkah untuk keluar dari konflik. Apa yang akan anda lakukan berdua, jika konflik melanda keluarga anda? Pertanyaan ini penting untuk dijawab sebelum benar-benar terjadi konflik. Karena konflik pasti akan terjadi suatu saat nanti dalam kehidupan keluarga anda, maka anda harus sudah memiliki jawaban tersebut sebelum bertemu realitas konflik.

Setiap pasangan akan memiliki karakter yang berbeda dalam pembuatan langkah ini. Semua tergantung dari sifat, karakter, pendidikan, kebiasaan suami dan isteri selama ini, serta corak komunikasi serta interaksi yang mereka biasakan dalam keluarga. Langkah yang akan diambil oleh setiap keluarga bisa berbeda, namun payung tersebut sangat penting untuk disediakan agar ketika hujan tiba, tidak bingung mencari alat pelindung diri.

Kedua, kuatkan motivasi ibadah
Sejak memasuki gerbang pernikahan, tanamkan dengan kuat dalam diri bahwa pernikahan dan keluarga adalah ibadah. Motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan bahtera kehidupan rumah tangga anda. Jika anda selalu menguatkan motivasi ibadah dalam rumah tangga, akan membawa suasana yang nyaman dalam kehidupan. Motivasi ibadah ini sesungguhnya telah meredam banyak sekali potensi konflik. Masing-masing pihak akan selalu sadar bahwa kehidupan rumah tangga bukanlah bebas nilai, bukan berdiri di atas ruang hampa, namun kokoh berdiri di atas landasan keimanan.

Motivasi yang sudah dimiliki di awal pernikahan bisa meluntur bahkan hilang di tengah perjalanannya. Ini karena tidak dijaga dan dirawat dengan baik. Maka suami dan isteri harus merawat dengan menguatkan motivasi ibadah, agar mereka selalu terbingkai dalam orientasi hidup yang lurus.
Jika suatu ketika muncul konflik, hadirkan kembali motivasi ibadah ini di tengah suami dan isteri. Bagaimana anda memperpanjang konflik, sedang motivasi berumah tangga yang anda bangun adalah ibadah?

Ketiga, kuatkan visi keluarga, untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat
Sejak memproses sebuah pernikahan, anda harus sudah memiliki visi keluarga yang jelas dan terang benderang. Visi akan menjadi panduan arah kehidupan rumah tangga anda. Visi adalah pernyataan luhur yang akan anda capai dalam kehidupan keluarga. Visi menggambarkan “siapa jatidiri keluarga anda”.

Ketika keluarga anda memiliki visi untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, untuk mendapatkan surga dunia dan surga akhirat, untuk mewujudkan sukses dunia dan sukses akhirat, maka visi ini harus dikuatkan dan diinternalisasikan dalam sepanjang perjalanan kehidupan keluarga.
Kelak ketika terjadi konflik, ingatlah bahwa visi keluarga anda ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, ingin memperoleh surga dunia dan akhirat. Ini akan meredam konflik dan mampu menghindarkan potensi negatif konflik sehingga tidak merusak keharmonisan keluarga.

0 comments:

Post a Comment