Mulianya Menjadi Ibu Rumah Tangga

Friday, October 12, 2012

Menjadi ibu adalah kodrat setiap wanita, tetapi pilihan untuk menekuni diri sebagai ibu rumah tangga bukanlah tugas yang mudah. Di tengah kepungan budaya Barat dan penjajahan media, kaum wanita hari ini telah meninggalkan identitas mulianya sebagai ‘benteng ummat’. 

Sebagian mereka menyibukkan diri dengan urusan-urusan kecil yang remeh, pernak-pernik perhiasan dan persaingan gaya hidup modern yang menjauhkan mereka dari keutamaan individu dan sosial. Seorang ibu dengan tampilan ‘wah’ yang bergelut mengejar materi dan status sosialnya akan lebih disegani dibandingkan ibu rumah tangga sederhana yang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya.
Hidup di zaman ini membutuhkan ketahanan yang luar biasa. Sebagai muslim, bekal ilmu dan keduniaan yang dikaruniai Allah Swt seharusnya meyakinkan mereka akan kebenaran petunjuk Allah yang menegaskan prinsip kesetaraan (gender equality), bahwa kaum ibu bermitra sejajar dengan kaum laki-laki, dalam posisi yang sangat istimewa. Yaitu sebagai pendidik generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan diri dan keluarganya. Mendidik diri dan keluarganya untuk selalu memahami dan mengikuti bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Inilah investasi besar yang sering diremehkan oleh para ‘penikmat dunia’.

Pesan Istimewa untuk Para Wanita
Salah satu pesan istimewa Allah Swt kepada kaum wanita diabadikan dalam ayat berikut; “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33).
Sesungguhnya kemajuan di zaman ini banyak diilhami oleh ayat diatas. Allah Swt menghendaki kaum wanita agar berperilaku lemah lembut, pemalu dan penuh kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya, tidak melakukan ucapan dan tindakan yang menimbulkan godaaan yang akan menjatuhkan martabat kaum wanita.
Karena, kehalusan budi dan tingkah laku wanita adalah salah satu pilar utama kehidupan. Ibu-ibu yang shalih akan mendidik anak-anaknya untuk menjadi shalih.
Bahkan, kaum ibu dahulu mampu membangun karakter pribadinya dan melakukan berbagai aktifitas keilmuan dibalik “tembok sunyi “ yang dapat menjaga sifat dan  rasa malu. Itulah kehendak Allah atas kaum wanita. Karakter dan psikis wanita tersebut selaras dengan kondisi fisik yang diciptakan  Allah Swt dalam bentuk yang berbeda dari kondisi yang dimiliki kaum laki-laki. Tubuh wanita diciptakan dalam bentuk yang sesuai benar dengan tugas keibuan, sebagaimana dengan jiwanya yang disiapkan untuk menjadi rumah tangga dan ratu keluarga. Secara umum, organ tubuh wanita, baik yang terlihat maupun yang tidak tersembunyi, otot-otot dan tulang-tulangnya serta sebagian besar fungsi organiknya hingga tingkat yang sangat jauh, berbeda dengan organ tubuh kaum laki-laki yang menjadi pasangannya. Perbedaan dalam struktur dan organ tubuh ini tidak lah sia-sia, sebab tidak ada satu
pun benda, baik dalam tubuh manusia maupun yang ada di seluruh jagat raya ini yang tidak mempunyai hikmah tertentu.
Fitrah Mulia Kaum Ibu
Dengan perbedaan struktur tubuh tersebut, kaum wanita memiliki perasaan dan emosi yang lebih sensitif. Abbas Mahmud al-‘Aqqad mengatakan. “Adalah sesuatu yang alami jika kaum wanita memiliki kondisi emosional yang khusus yang berbeda dengan kondisi yang dimiliki kaum laki-laki”. Keharusan melayani anak yang dilahirkannya tidak terbatas dengan memberi makan dan menyusui. Akan tetapi, dia harus selalu memiliki hubungan emosional yang menuntut banyak hal yang saling melengkapi antara apa yang ada pada dirinya dengan yang ada pada suaminya.
Pemahaman dirinya dalam suatu masalah harus berhadapan dengan pemahaman suaminya yang mungkin saja berbeda. Bahkan, antara tingkat emosinya dengan emosi suaminya harus benar-benar terjaga keseimbangannya. Seorang ibu yang mulia akan memahami betul saat gembira dan sedihnya anak-anak. Demikian halnya sang ibu akan mengajarkan dengan suka ria tentang bagaimana menunjukkan rasa cinta, simpati  dan benci kepada orang lain dengan cara-cara yang baik dan bijaksana.
Sifat-sifat mendasar dalam fungsi pengasahan dan bimbingan terhadap anak-anak ini merupakan salah satu dari sekian banyak sumber kelembutan kewanitaan yang menyebabkan kaum wanita lebih sensitif dalam merespon perasaan. Sebaliknya, apa yang tampak mudah bagi kaum laki-laki bisa menjadi sulit bagi kaum wanita, misalnya dalam menggunakan rasio, menyusun pendapat dan mengerahkan kemauan. Itulah fitrah kaum ibu yang sesungguhnya mulia tetapi seringkali dipandang kelemahan yang memperdaya.
Salah Paham Memandang Islam
Dalam banyak ayat yang tersebar di dalam  al-Qur’an, Allah Swt telah meletakkan kedudukan kaum wanita pada tempat tertinggi dalam sepanjang sejarah kemanusiaan dan akan terus demikian hingga akhir zaman. Sayangnya, ayat-ayat Allah yang dikuatkan dengan hadits Rasulullah Saw itu seringkali disalah-tafsirkan, termasuk oleh para ulama kita sendiri. Syeikh Muhammad al-Ghazali dalam buku Qadhaya al-Mar`ah  bayna at-Taqalid ar-Rakidah wa al-Wafidah, dengan yakin mengatakan; “Fatwa  terkenal di kalangan kaum muslimin yang kemudian diambil alih oleh musuh-musuh Islam adalah tuduhan bahwa Islam telah mendirikan dinding pembatas yang tinggi antara laki-laki dan perempuan, sehingga keduanya tidak dapat saling melihat satu sama lain. Bahkan sekadar memandang pun hukumnya haram”.  Kita juga pernah dikejutkan dengan ucapan seorang khatib yang mengatakan, “wanita tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali pergi ke rumah suaminya (sesudah menikah) dan ke kuburan (untuk dikuburkan)!
Tentu saja, fatwa dan khutbah tersebut lahir dari pemahaman dan tafsiran terhadap ayat-ayat Allah dan hadits Nabi Saw yang patut ditinjau ulang. Karena memang, ada masalah dalam fenemona umat Islam berkenaan dengan kemurniaan dan kedalaman riwayat-riwayat hadits yang diterapkan. Diakui, terdapat ulama yang menyebutkan riwayat-riwayat yang tidak sahih dan para ahli fiqh yang tidak memperhatikan perubahan hakikat Islam dan perkembangan zaman. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Fatimah Ra bahwa wanita tidak boleh melihat laki-laki dan juga tidak boleh dilihat laki-laki, sebagaimana hadits Nabi Saw yang melarang sebagian istri Nabi melihat Abdullah ibn Ummi Maktum. Dalam peristiwa yang lain, Ummi Hamid; istri Abu Hamid as-Sa’di pernah menyampaikan perasaan senang hatinya karena bisa shalat berjamaah bersama Rasulullah Saw. Namun, ternyata Rasulullah justru menginginkannya untuk shalat di rumah. Bahkan, semakin sempit tempat, jauh dan sunyi, maka semakin baiklah shalat di tempat itu.
Kritik terhadap Monopoli Tafsiran Agama
Semua riwayat tersebut merupakan hadits yang tidak sama dengan hadits yang ditulis para ulama hadits yang otoritatif, karena hadits-hadits tersebut nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan Al-Qur`an dan as-Sunnah. Hadits-hadits semisal itu telah membelenggu kaum wanita dan menyudutkan kedudukan mereka sebagai golongan terbelakang. Lebih dari itu, kedudukan wanita yang demikian rendah itu akan mempengaruhi buruknya sistem keluarga, struktur masyarakat dan prinsip perundang-undangan.
Dalam merespon hal itu, Ibnu Huzaimah melakukan uji ulang dan kritik atas tafsiran hadits-hadits tersebut dengan membuat bab yang menyebutkan masalah “Shalatnya Seorang Wanita di Rumahnya Lebih Baik daripada Shalatnya di Masjid Rasulullah Saw” dan sabda Nabi Saw “Shalat di Masjidku ini Lebih Baik daripada Seribu Kali Shalat di Masjid-Masjid Lain”. Pertanyaan yang segera muncul, adalah jika ungkapan tersebut benar, mengapa Nabi Saw membiarkan wanita-wanita menghadiri shalat berjamaah bersamanya sepanjang sepuluh tahun, dari fajar hingga isya’. Mengapa mereka tidak dinasihati agar tetap tinggal di rumah-rumah mereka sebagia ganti dari ancaman yang batil itu? Mengapa beliau mempercepat shalat fajar dengan membaca dua surat pendek ketika mendengar tangisan anak kecil bersama ibunya sehingga tidak mengganggu hatinya? Mengapa beliau bersabda, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah pergi ke masjid-masjid Allah Swt?
Mengapa pula para Khulafaur Rasyidin menetapkan barisan-barisan wanita di masjid-masjid setelah wafatnya Rasulullah Saw.
Barangkali, Ibnu Huzaimah  ingin menenteramkan dirinya dan hati kawan-kawannya ketika mendustakan hadits-hadits yang melarang wanita shalat di masjid-masjid dan menyebutnya sebagai kebatilan. Para ulama Musthalah Hadits berkata, “Sebuah hadits dianggap ganjil (syadz) jika kebenarannya ditentang oleh hadits yang lebih shahih. Apabila hadits yang menentangnya tidak dipercaya, bahkan lemah, maka hadits tersebut ditinggalkan atau bernilai munkar (tertolak)”.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tidak disebutkan hal-hal yang mengarah pada larangan bagi kaum wanita untuk shalat di masjid-masjid. Hadits-hadits tersebut semuanya ditolak. Lalu, bagaimana jika hadits lemah berlawanan dengan Sunnah yang mutawatir dan dikenal? Hadits tersebut harus ditinggalkan sejak awal.

Agaknya, benarlah prediksi Nabi Saw bahwa telah datang masanya ketika hadits-hadits shahih terkebur oleh egosime keagamaan yang didominasi oleh kelompok-kelompok fanatik yang tidak tahu kecuali riwayat-riwayat yang ditinggalkan dan munkar. Monopoli tafsiran agama mereka seringkali menyakitkan sesama Muslim lainnya dengan tuduhan-tuduhan bid’ah dan kesesatan beragama yang harus ditumpas habis. Jalan dakwah ini seringkali melupakan kewajiban menjaga ukhuwwah diantara ummat Islam yang seharusya menjadi prioritas setiap da’i.
Islam Membebaskan Wanita
Jika dicermati lebih dalam, Islam tidak pernah menghalangi kemajuan kaum wanita. Sebaliknya, dari hasil kajian hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Islam memberi ruang kebebasan bagi kaum hawa dengan batasan-batasan yang justru menjaga kehormatannya. Larangan terhadap kaum wanita untuk pergi ke masjid bisa diterima ketika mereka berhias secara berlebihan (tabarruj). Dan mencegah wanita dari perbuatan tercela harus dilakukan dengan merealisasikan wasiat Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa mereka (kaum wanita) boleh keluar dengan mengenakan baju biasa, atau dengan penampilan sederhana, tidak memakai wangi-wangian dan bergaya. Sedangkan mengeluarkan hukum tentang larangan pergi ke masjid-masjid bagi wanita jelas merupakan cara yang tidak ada kaitannya dengan Islam.
Karena itu, jika seorang wanita telah melaksanakan tugas-tugas domestik di rumahnya, suami tidak berhak melarangnya untuk pergi ke masjid, sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah pergi ke masjid-masjid-Nya”. Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan beliau yang telah menjadikan satu pintu dari pintu-pintu masjid khusus untuk kaum wanita dan beliau menempatkan wanita-wanita dalam jamaah pada barisan paling belakang dalam masjid. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga mereka ketika ruku’ dan sujud. Dan beliau mencela laki-laki yang mendekati barisan kaum wanita dan juga mencela wanita yang mendekati barisan kaum laki-laki.
Kebebasan seorang wanita muslim juga tidak akan terganggu karena posisinya sebagai ibu rumah tangga. Ketika Islam mewajibkan suami untuk memberi nafkah keluarganya, maka pada hakikatnya dia memberi ganti kepada kaum wanita untuk kekosongan waktunya, untuk berkiprah demi kebaikan rumah tangganya, membesarkan anak-anaknya dan mencurahkan segenap perhatiannya dalam menunaikan tugas-tugas alamiahnya. “Wanita cantik yang melupakan perhiasannya dan menyibukkan  diri dengan mengasuh anak-anaknya sehingga parasnya berubah adalah wanita yang harus mendapat penghargaan dan kedudukan tinggi”. Ungkapan tersebut boleh jadi benar, tetapi penerapannya sangat ditentukan oleh kondisi masing-masing rumah tangga dan prioritas kemaslahatannya.
Yang terpenting dari itu semua, sebuah keluarga harus mempertahankan tiga hal yang menjadi pilar kebahagiaannya yaitu ketenangan, cinta dan sikap yang saling menyayangi. Kasih sayang bukanlah sejenis perhatian dalam bentuk benda, tetapi merupakan sumber bagi kehangatan yang terus mengalir, sedangkan darahnya adalah akhlak dan tingkah laku yang mulia. Ketika rumah tangga berdiri kukuh di atas kedamaian dan ketenteraman, cinta yang terbalas, dan kasih sayang yang hangat , maka perkawinan menjadi anugerah yang mulia dan harta yang penuh berkah. Ia akan mampu mengatasi berbagai rintangan dan lahirnya keturunan-keturunan yang baik. Dan, keputusan untuk menikmati kemuliaan menjadi ibu rumah tangga adalah langkah penting untuk mewujudkan itu semua.
Shaifurrokhman Mahfudz, Lc. M.Sh
Sekjen Andalusia Islamic Centre & Dosen STEI Tazkia Bogor 
[hidayatullah.com]
Continue Reading...

Fathurrahman Lagi Berenang

Wednesday, October 10, 2012

Pagi itu tgl 11 Oktober 2012, Fathurrahman Zakwan Ahmad ( Athar), Setelah berjalan pagi keliling Komplek Prumnas Siteba, Dengan kereta dorong bersama ayah dan bunda, Athar mandi dan berenang penuh dengan semangat.
Continue Reading...

Jangan Sebut Anak Anda “Nakal”

Sunday, September 23, 2012

“Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.
Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal, padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal. Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melaku­kan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan. Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.
Continue Reading...

Generasi Qurani: Generasi Yang Unik

Monday, September 10, 2012

Terdapat fakta sejarah yang patut menjadi renungan bagi para pengemban dakwah Islam di mana saja dan pada zaman siapa saja. Dan sudah selayaknya peristiwa tersebut dipedomani, karena hal itu mempunyai efek yang signifikan berkenaan dengan manhaj dan orientasi dakwah.
Dakwah Islam telah melahirkan sekelompok generasi manusia –yakni generasi shahabat ridhwanullah ‘alaihim- menjelma menjadi generasi yang sangat istimewa dalam sejarah Islam khususnya, dan sepanjang sejarah manusia pada umumnya. Namun selanjutnya, dakwah tersebut tidak melahirkan kembali generasi ini pada kali yang lain. Ya, begitulah, terdapat pengistimewaan bagi generasi tersebut sepanjang perjalanan sejarah. Karena, memang belum pernah terjadi –sama sekali- afiliasi masif dalam jumlah besar sedemikian rupa, di satu tempat, sebagaimana yang telah terjadi pada periode awal perjalanan dakwah Islam.
Sebuah fakta mencengangkan yang benar-benar terjadi, dan mempunyai hikmah yang patut menjadi renungan. Semoga kita mendapat bimbingan-Nya untuk menyibak rahasia dibaliknya.
Sejatinya Al Quranul Karim, yang menjadi pedoman utama dakwah ini, telah ada di hadapan kita. Begitu pula sabda-sabda dan petunjuk Rasulullah saw yang aplikatif, serta keteladanan hidup beliau yang mulia, semuanya telah tersaji di hadapan kita. Pun tak ketinggalan, untuk dakwah tersebut, telah dihadirkan keteladanan “generasi pelopor” yang tak akan terulang lagi dalam sejarah. Bukankah yang telah hilang hanyalah pribadi Rasulullah saw? Lantas, apakah yang demikian ini adalah misteri?
Apabila eksistensi pribadi Rasulullah saw merupakan sebuah keniscayaan bagi keberlangsungan dan efektivitas dakwah tersebut, tentunya Allah tidaklah menjadikannya sebagai seruan bagi manusia secara keseluruhan. Dan Allah juga tidak akan melegimitasinya sebagai risalah paripurna. Lagi pula, Allah tentu tidak akan mempercayakan dakwah ini untuk menangani urusan manusia di muka bumi hingga akhir zaman.
Akan tetapi Allah swt telah menjamin keterpeliharaan Al Quran. Allah Maha Tahu bahwa dakwah ini akan tetap survive meski sepeninggal Rasulullah saw, dan ia senantiasa berdaya guna. Dus, Allah memilih dakwah ini di sisi-Nya setelah risalah berlangsung selama 23 tahun. Kemudian, Allah hendak mengekalkan agama-Nya hingga akhir zaman. Oleh karena itu, “kepergian” sosok pribadi Rasulullah saw tidak berarti menegaskan fakta di atas, dan tidak pula bersangkut paut dengannya.

Akan lebih baik bila kita menyelami peristiwa yang lain, agar kita bisa merenungkan referensi yang menjadi sumber inspirasi generasi garda depan, karena bisa jadi kita jumpai sesuatu yang telah berubah; dan kemudian kita bisa merenungkan manhaj yang mereka pelajari, sebab bisa saja ada sesuatu yang telah berubah di dalamnya.
Referensi utama yang diadopsi generassi pelopor adalah Al Quran, hanya Al Quran semata. Adapun sabda-sabda dan petunjuk Rasulullah saw hanyalah merupakan satu dari beberapa konsekuensi yang bersumber dari Al Quran. Salah satu contoh, ketika Aisyah radhiyallah ‘anha ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw,, ia menjawab, “Akhlaq beliau adalah Al Quran.” (HR. An Nasa’i)
Adalah Al Quran satu-satunya sumber referensi yang mereka adopsi.  Mereka beradaptasi dengannya dan mengambil pelajaran darinya. Belum pernah terjadi kondisi yang demikian, karena pada waktu itu umat manusia belum memiliki peradaban dan kebudayaan, tidak pula keilmuan, karya-karya tulis, dan kajian-kajian?! Sekali-kali tidak! Kala itu, telah ada peradaban dan kebudayaan Romawi, juga buku-buku dan undang-undang mereka, yang sampai saat kini masih menjadi acuan dan dikembangkan oleh Bangsa Eropa. Di sisi lain, terdapat pula sisa-sisa peradaban, rasionalitas, filsafat, dan kesenian Yunani, di mana menjadi sumber inspirasi pemikiran Barat hingga sekarang. Di tempat lain, terdapat pula peradaban Persia, berikut kesenian, kesusastraan, mitologi, kepercayaan-kepercayaan, dan sistem pemerintahannya. Selain itu, masih terdapat beberapa peradaban lain yang jauh dan yang dekat (dari dunia Arab), misalnya: peradaban India, peradaban China, dan lain sebagainya.
Pada waktu itu, dua peradaban –Romawi dan Persia- mengapit Jazirah Arab di sebelah utara dan sebelah selatan, sementara Judaisme dan agama Kristen masih berpengaruh di tengah-tengah jazirah. Terdorong kebutuhan terhadap peradaban dan kebudayaan yang universal maka generasi shahabat tidak hanya membatasi diri berpegang teguh pada Kitabullah semata, pada saat perintisannya. Demikian ini dilakukan semata-mata demi sebuah planning yang matang dan sistem yang rapi. Sehingga, Rasulullah saw marah ketika tatkala beliau melihat di tangan Umar radhiyallahu ‘anhu terdapat lembaran yang berisikan ayat Taurat. “Demi Allah, sesungguhnya andai saja Musa masih hidup di belakang kalian, pastilah tak ada yang dilakukannya kecuali ia akan mengikuti (ajaran)ku!” tandas beliau. [Diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Ya’la dari Hammad bin Asy Sya’bi dari Jabir]
Bila demikian, berarti telah ada tuntunan dari baginda Rasulullah saw agar cukup merujuk pada Al Quran –yang selama ini mereka tekuni- selama masa-masa perintisan. Dengan merujuk pada Kitabullah semata, jiwa mereka mampu menyatu semata-mata dengan Al Quran, dan raga mereka berkomitmen menjalankan manhaj Al Quran. Sebab itulah, Rasulullah saw marah ketika melihat Umar bin Khattab ra hendak mengambil dari referensi lainnya.
Rasulullah juga ingin membentuk sebuah generasi  yang tulus hatinya, jernih akkalnya, orisinal konsepsinya, dan bersih kesadarannya, serta komposisinya bebas dari pengaruh apapun selain konsepsi Ilahi yang terkandung dalam Al Quran semata. Walhasil, jadilah mereka memiliki karakteristik yang “unik-istimewa”.
Namun, lihatlah apa yang terjadi di kemudian hari! Berbagai referensi berakulturasi! Beberapa generasi penerus menyisipkan –ke dalam referensi yang mereka adopsi- ajaran filsafat dan ilmu logika Yunani, mitos-mitos dan pandangan Persia, isra’iliyyat Yahudi, dan teologi Nasrani, serta beberapa peradaban dan kebudayaan yang rendah. Semuanya berakulturasi dengan penafsiran Al Quran dan ilmu kalam, sebagaimana yang terjadi dengan kajian fiqih dan ushul fiqih. Kemudian, kitab-kitab referensi “yang telah terkontaminasi” tersebut dikaji dan dipelajari oleh generasi-generasi selanjutnya. Maka dari itu, jelaslah, tidak ada yang menyamai generasi pelopor di atas.
Tak diragukan lagi bahwa akulturasi berbagai referensi pada kali yang pertama tersebut menjadi faktor utama dari sekian faktor yang memunculkan perbedaan yang kontras antara generasi-generasi penerus di satu sisi dan generasi pelopor yang unik-istimewa di sisi lain.
Selain faktor perbedaan karakteristik sumber rujukan, terdapat pula faktor penting lainnya, yakni ketidaksamaan “metode pembelajaran” (learning method) dari metode yang ditempuh oleh generasi pelopor.  Generasi ini tidaklah mengkaji Al Quran dengan berorientasikan tradisi dan publikasi, serta tidak pula untuk tujuan hobi dan mencari keuntungan. Tak seorang pun shahabat mempelajari Al Quran untuk memperkaya perbendaharaan tradisi semata, tidak pula hanya bertujuan menggabungkan dalil-dalil ilmiah dan fiqhiyah pada konklusi Al Quran yang disimpulkan berdasarkan pendapat pribadinya. Akan tetapi, para shahabat  mempelajari Al Quran untuk mendalami firman Allah, berkenaan dengan masalah pribadi dan persoalan bersama –yang mereka terlibat di dalamnya- serta kondisi lingkungan yang menjadi ajang aktivitas mereka. Mereka mengkaji firman-Nya untuk dipraktikkan seketika mendengarnya, sebagaimana pasukan di medan perang menerima “instruksi harian” untuk dikerjakan seketika itu.
Maka dari itu, tak ada seorang pun shahabat meminta banyak-banyak penyampaian Al Quran pada satu majelis. Karena, ia merasa yang demikian itu hanya akan memperbanyak kewajiban-kewajiban dan aturan-aturan agama yang membebani pundaknya. Karena itu, ia merasa cukup dengan sepuluh ayat untuk sementara waktu sampai ia telah menghafalnya dan mengamalkannya, sebagaimana informasi yang disebutkan dalam hadist Ibnu Mas’ud ra.
Kesadaran itulah, yakni kesadaran mempelajari untuk mengamalkan, yang telah membukakan bagi mereka –lantaran Al Quran- pintu-pintu kekayaan dan cakrawala pengetahuan. Semua itu tidak akan terbuka bagi mereka seandainya sejak semula, dalam mempelajari Al Quran, mereka berorientasikan sense penelitian, akademik, dan publikasi. Kemudian, mereka menganggap sepele pengamalannya dan menganggap enteng aturan-aturan agama; mencampuradukkan Al Quran dengan ambisi pribadi; membelokkan (makna) Al Quran sejalan dengan aturan yang berlaku agar sesuai dengan hawa nafsu dan kehidupan mereka, dan sejalan dengan dinamika kebudayaan yang belum tentu diterima oleh akal sehat dan tidak pula terabadikan dalam lembaran-lembaran kitab suci. Bukankah kebudayaan selalu dinamis seiring tilas-tilas dan peristiwa-peristiwa yang mengubah catatan sejarah kehidupan?!
Sejatinya, Al Quran tidak akan membeberkan rahasia-rahasianya kecuali terhadap pribadi yang bisa diterimanya karena memiliki sebuah mentalitas, yakni mentalitas intelektual yang berinisiatif pada pengamalan. Al Quran tidaklah hadir sebagai kitab yang memperkaya akal, tidak pula rujukan sastra dan seni, apalagi kitab dongeng dan sejarah, meskipun semua itu tercakup di dalamnya. Akan tetapi, Al Quran turun untuk menjadi “jalan hidup” (way of life) dan sebagai petunjuk Ilahi (divine guidline) yang suci. Dan Allah swt mempersiapkan mereka dengan bekal manhaj ini secara bertahap; Allah membacakan bagian demi bagiannya, sebagaimana firman-Nya:
“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra’ [17] : 106)
Al Quran ini tidaklah turun sekaligus dalam satu waktu, akan tetapi ia diturunkan menurut kadar kebutuhan saat itu; sesuai dengan perkembangan pemikiran dan penalaran yang sedang berlangsung; seiring dengan dinamika masyarakat dan kehidupan secara umum; dan untuk menjawab problematika sosial yang sedang dihadapi komunitas umat islam dalam kehidupan yang dijalaninya. Pada waktu itu, turunlah satu atau beberapa ayat, dalam kondisi tertentu dan berkenaan  dengan peristiwa tertentu.
Al Quran berdialektika dengan manusia tentang apa yang terbersit dalam benak mereka, menjelaskan kepada mereka duduk perkara yang mereka hadapi, memikirkan cara penyelesaian masalah mereka, mengoreksi kekeliruan sense dan langkah mereka, dan mempertautkan segala yang mereka hadapi kepada Allah, Tuhan mereka, serta mengenalkan Allah –kepada mereka- dengan sifat-sifat-Nya yang mempengaruhi alam semesta. Sehingga, mereka pun seketika itu menyadari bahwa mereka hidup berdampingan dengan alam metafisik, di bawah pengawasan Allah, berada dalam kekuasaan-Nya. Dari sini, mereka akhirnya mampu menyesuaikan diri, dalam kehidupan mereka, dengan manhaj Ilahi yang lurus tersebut.
Manhaj pembelajaran yang berorientasi pada implementasi dan praktik itulah buah karya generasi pelopor. Sementara manhaj pembelajaran yang berorientasi pada tugas akademik dan pengetahuan adalah manhaj yang diprakarsai generasi-generasi setelahnya. Tentunya, dengan demikian, faktor yang kedua ini juga menjadi faktor penting yang membedakan semua generasi dengan generasi shahabat yang istimewa nan tiada duanya.

Selanjutnya, terdapat faktor ketiga yang patut untuk kita camkan dan renungkan.
Seseorang tatkala masuk Islam, berarti harus menanggalkan kesesatannya, yakni semua yang dilakukannya semasa jahiliyah. Ia merasa, pada saat memilih Islam, ia sedang memulai “komitmen baru” yang benar-benar terbebas dari kehidupan yang dilakoninya pada masa jahiliyah. Dari sini, ia akan meragukan (kebenaran) segala ritual yang ditunaikannya semasa jahiliyahnya seperti keadaan orang yang sedang ragu, bimbang, cemas dan takut, seraya menganggap semua itu adalah perbuatan keji yang tidak baik dalam pandangan Islam.
Bermula dari persepsi ini, ia pun mempelajari ajaran yang baru, yakni cahaya petunjuk Islam. Apabila suatu ketika ia dikuasai hawa nafsunya; atau suatu saat, tradisi (masa lalunya) menarik perhatiannya; atau andaikata ia tak kuasa menjalankan kewajiban-kewajiban Islam suatu ketika, seketika itu ia akan merasa berdosa dan berbuat salah. Dalam relung jiwanya, ia menyadari perlu menyucikan jiwanya dari hal-hal yang mengotori jiwanya, lantas sekali lagi mencoba kembali menyesuaikan diri sejalan dengan petunjuk Al Quran.
Sudah semestinya, terdapat pemisahan kesadaran (‘uzlah syu’uriyyah) secara penuh antara masa silam seorang muslim dalam kejahiliyahan dan masa kininya dalam keislamannya; dari pemisahan ini, berkembanglah pemisahan sepenuhnya –dalam ritualnya, misalnya sembahyang, bersama komunitas jahiliyah- dari berbagai hubungan dan keterikatan sosial. Dengan begitu, akhirnya, ia pun bisa melepaskan diri dari kungkungan jahiliyah, dan kemudian mengikatkan diri dengan lingkungan yang Islami. Lain masalahnya, jikalau ia menjalin interaksi dengan sebagian kalangan musyrik dalam bidang perniagaan dan kerja sama sehari-hari. Karena, pemisahan kesadaran merupakan satu hal tersendiri, dan kerja sama sehari-hari merupakan satu hal yang lain.
Kemudian, harus ada pembebasan diri dari pengaruh lingkungan, tradisi, konsepsi, adat-istiadat, dan ikatan-ikatan jahiliyah. Hal ini merupakan konsekuensi transformasi akidah dari syirik (politeisme) menuju tauhid; dan transformasi ideologi tentang kehidupan dan eksistensi diri, dari tren jahiliyah menuju mainstream Islam. Kondisi ini kemudian berkembang dari Ma’idah sekumpulan orang menjadi komunitas baru yang Islami, dengan pedoman yang baru. Komunitas dan pedoman ini kemudian menghadirkan secara totalitas, baik loyalitas, ketaatan, dan kepasrahan diri.
Tak pelak lagi, faktor yang ketiga ini pun menjadi titik kontras. Ia menjadi titik permulaan sejarah kehidupan yang baru, yakni sejarah yang –secara cepat- bebas dari segala himpitan tradisi-tradisi yang diciptakan oleh masyarakat jahiliyah, dan dari semua paham dan nilai yang berlaku di dalamnya. Di sana, seorang muslim hanya menjumpai penderitaan dan bencana. Akan tetapi, dalam dirinya, ia telah meneguhkan dan menyempurnakan tekadnya, dan tidak akan goyah oleh himpitan ideologi jahiliyah, tidak juga oleh taklid-taklid masyarakat jahiliyah.
Kita sekarang berada dalam suatu kejahiliyahan sebagaimana jahiliyah yang sekurun dengan Islam, atau malah lebih mengenaskan. Semua yang ada di sekeliling kita adalah jahiliyah. Konsepsi dan akidah manusia, adat-istiadat dan tradisi mereka, sumber-sumber kebudayaan mereka, kesenian dan kesusastraan mereka, hukum dan undang-undang mereka, bahkan banyak hal yang kita anggap sebagai budaya Islam, referensi Islam, filsafat dan pemikiran Islam, semuanya juga merupakan produk jahiliyah tersebut.
Sebab itulah nilai-nilai Islam tidak bisa konsisten tertanam dalam sanubari kita; konsepsi Islam tidak bisa terjabarkan jelas dalam alam pikiran kita; dan karenanya, di lingkungan kita, tidak bisa berkembang generasi –dalam jumlah besar- seperti halnya generasi yang dilahirkan Islam pertama kali.
Jika demikian, dalam manhaj haraki Islam, mau tak mau kita harus membebaskan diri –dalam masa persiapan dan formulasi- dari semua jenis pengaruh jahiliyah yang selama ini kita tiru dan adopsi. Sudah semestinya kita kembali berpijak pada referensi murni yang dipedomani oleh generasi shahabat, yakni referensi yang dijamin tak terkontaminasi oleh noda sedikitpun. Kita kembali kepadanya sembari membangun –dari referensi tersebut- konsepsi kita tentang segala realitas kekinian dan kemanusiaan, serta semua interelasi antara dua realitas tadi di satu sisi dan wujud Yang Maha Sempurna nan Maha Benar, yakni keberadaan Allah swt, di sisi lain. Dari sinilah kita membangun konsepsi kita tentang kehidupan, juga tentang nilai-nilai, etika-etika, dan manhaj-manhaj kita, dalam bidang hukum, politik, ekonomi, dan segala bidang yang menunjang kehidupan.
Ketika kita kembali berpijak pada Al Quran, merupakan suatu keharusan, kita memulai lagi dengan kesadaran “mempelajari untuk melaksanakan dan mengamalkan”, bukannya dengan kesadaran “akademik dan mencari profit”.
Kita kembali kepadanya, supaya kita menelisik apa yang dikehendakinya atas keberadaan dan orientasi hidup kita. Di jalan ini, akan kita jumpai –di dalam Al Quran- keindahan artistik, kisah-kisah fantastik, “adegan-adegan” hari Kiamat, juga retorika yang impresif, dan segala hal yang ingin ditelisik oleh para akademisi dan kaum oportunis. Kita akan menggapai semuanya, namun dengan catatan, itu bukanlah tujuan utama kita. Karena, tujuan utama kita adalah mengetahui apa yang dikehendaki Al Quran untuk kita lakukan; apakah konsepsi menyeluruh yang diinginkan Al Quran dari kita; bagaimanakah Al Quran menghendaki kesadaran kita terhadap Allah swt; dan bagaimanakah Al Quran menghendaki akhlaq, sikap, dan tatanan kehidupan kita sehari-hari?!
Untuk itu, kita harus melepaskan diri dari himpitan komunitas jahiliyah, juga konsepsi, tradisi, dan tatanan sosial yang berbau jahiliyah, lebih-lebih di dalam jiwa kita. Kita tidak perlu berbaur dengan realitas masyarakat jahiliyah ini, juga tidak perlu menyatakan loyalitas kepada mereka. Karena, mereka dengan karakteristiknya –yakni karakteristik jahiliyah- tidak layak untuk “bergandengan tangan” dengan kita. Yang penting adalah, kita harus memperbaiki diri kita lebih dahulu sebelum kita memperbaiki masyarakat kemudian.

Selanjutnya, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mereformasi realitas masyarakat tersebut. Kita harus mereformasi realitas jahiliyah mulai dari akarnya. Realitas inilah yang senantiasa berbenturan secara fundamental dengan manhaj dan konsepsi Islam, serta menghalangi kita –sekuat tenaga- dari kehidupan semestinya seperti yang dikehendaki manhaj Ilahi.
Langkah pertama dalam meniti jalan kita adalah menaklukkan masyarakat jahiliyah berikut nilai-nilai dan konsepsi-konsepsinya; dan jangan sampai kita menyelaraskan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsi kita, sedikit atau banyak, agar sejalan dengan mereka di “jalan tengah”. Sekali-kali tidak! Karena sejatinya kita dan mereka berada di jalan yang berbeda. Maka, apabila kita menyertai mereka selangkah saja, berarti kita telah kehilangan seluruh manhaj kita dan juga kehilangan jalan kita.
Dalam merealisasikan langkah di atas kita akan menjumpai rintangan dan hambatan. Langkah tersebut mengharuskan kita mendedikasikan pengorbanan yang tak ternilai. Namun, kita tak punya pilihan lain ketika kita bertekad menapaki jalan generasi utama, generasi yang telah Allah tetapkan baginya manhaj Ilahi, dan menolongnya mengalahkan manhaj jahiliyah.
Alangkah lebih baik, bila kita senantiasa memahami keistimewaan manhaj kita, hal ihwal posisi kita, dan karakteristik jalan yang mau tak mau kita tempuh untuk keluar dari kejahiliyahan, sebagaimana yang dilakukan generasi spesial yang tiada duanya.
Continue Reading...

Agar Konflik Tidak Merusak Rumah Tangga Anda

Friday, August 31, 2012

Mungkin memang benar teori yang menyatakan bahwa konflik itu tidak bisa dihindari, karena potensi konflik ada dalam diri setiap orang. Dalam seluruh konteks, baik dalam keluarga, masyarakat, organisasi, atau negara. Coba saja perhatikan, ketika memulai sebuah rumah tangga baru, hari pertama dalam kehidupan mereka, sudah akan muncul potensi konflik, dari yang paling sederhana. “Hari ini kita masak apa?” Jawaban dari pertanyaan ini sudah bisa menyulut konflik.

Setiap orang punya selera makan yang berbeda. Citarasa masakan yang kita senangi selalu terpengaruh oleh citarasa masakan ibu kita dan citarasa kampung halaman masing-masing. Citarasa masakan orang Jawa berbeda dengan citarasa masakan Padang, berbeda pula dengan citarasa masakan Ambon. Sama-sama Jawa, citarasa masakan Jawa Timur berbeda dengan citarasa masakan Jawa Tengah. Sama-sama Jawa Tengah, citarasa masakan Solo berbeda dengan citarasa masakan Banyumas.

Sama-sama berasal dari daerah Solo, citarasa masakan ibu saya berbeda dengan citarasa masakan ibu isteri saya. Nah, ini masalah yang sangat sederhana, namun bisa memunculkan konflik apabila antara suami dan isteri tidak memiliki kemampuan untuk menahan diri dan berusaha saling menyesuaikan dengan harapan pasangan.

Sekedar urusan monosodium glutamat (MSG) sebagai bumbu masak, sudah bisa memunculkan konflik antara suami dan isteri. Suami dididik dalam lingkungan keluarga yang selalu menggunakan MSG dalam setiap masakan, sedang isteri dilahirkan dari lingkungan keluarga yang anti-MSG.

Itu baru masalah yang sederhana, sekedar citarasa masakan. Belum lagi menyangkut kebiasaan hidup, orientasi kehidupan, sampai pada masalah pendidikan anak, afiliasi partai politik, afiliasi ormas, dan lain sebagainya. Semua bisa menjadi potensi konflik, karena masing-masing pihak memiliki kecenderungan yang berbeda sejak dilahirkan.

Untuk itu, yang diperlukan adalah usaha sadar untuk mengelola potensi konflik, sehingga mengurangi peluang terjadinya konflik serta membuat konflik tidak menyebabkan hilangnya keharmonisan hubungan suami isteri. Di antara cara yang bisa dilakukan untuk maksud itu adalah dengan melakukan beberapa langkah berikut sebelum terjadinya konflik rumah tangga.

Sedia Payung Sebelum Hujan

Prinsip ini sangat tepat diaplikasikan dalam kehidupan rumah tangga. Sediakan payung sebelum musim hujan tiba, sediakan lilin sebelum pemadaman listrik oleh PLN, sediakan kedewasaan jiwa sebelum konflik tiba. Dalam kehidupan keluarga, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan sebelum datangnya konflik, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, milikilah kesepakatan dengan pasangan, bagaimana langkah keluar dari konflik
Ini contoh aplikasi dari prinsip sedia payung sebelum hujan. Kesepakatan antara suami dan isteri ini sangat penting dibuat di saat suasana nyaman dan tidak ada konflik. Buat “road map” atau “plan” bagaimana langkah untuk keluar dari konflik. Apa yang akan anda lakukan berdua, jika konflik melanda keluarga anda? Pertanyaan ini penting untuk dijawab sebelum benar-benar terjadi konflik. Karena konflik pasti akan terjadi suatu saat nanti dalam kehidupan keluarga anda, maka anda harus sudah memiliki jawaban tersebut sebelum bertemu realitas konflik.

Setiap pasangan akan memiliki karakter yang berbeda dalam pembuatan langkah ini. Semua tergantung dari sifat, karakter, pendidikan, kebiasaan suami dan isteri selama ini, serta corak komunikasi serta interaksi yang mereka biasakan dalam keluarga. Langkah yang akan diambil oleh setiap keluarga bisa berbeda, namun payung tersebut sangat penting untuk disediakan agar ketika hujan tiba, tidak bingung mencari alat pelindung diri.

Kedua, kuatkan motivasi ibadah
Sejak memasuki gerbang pernikahan, tanamkan dengan kuat dalam diri bahwa pernikahan dan keluarga adalah ibadah. Motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan bahtera kehidupan rumah tangga anda. Jika anda selalu menguatkan motivasi ibadah dalam rumah tangga, akan membawa suasana yang nyaman dalam kehidupan. Motivasi ibadah ini sesungguhnya telah meredam banyak sekali potensi konflik. Masing-masing pihak akan selalu sadar bahwa kehidupan rumah tangga bukanlah bebas nilai, bukan berdiri di atas ruang hampa, namun kokoh berdiri di atas landasan keimanan.

Motivasi yang sudah dimiliki di awal pernikahan bisa meluntur bahkan hilang di tengah perjalanannya. Ini karena tidak dijaga dan dirawat dengan baik. Maka suami dan isteri harus merawat dengan menguatkan motivasi ibadah, agar mereka selalu terbingkai dalam orientasi hidup yang lurus.
Jika suatu ketika muncul konflik, hadirkan kembali motivasi ibadah ini di tengah suami dan isteri. Bagaimana anda memperpanjang konflik, sedang motivasi berumah tangga yang anda bangun adalah ibadah?

Ketiga, kuatkan visi keluarga, untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat
Sejak memproses sebuah pernikahan, anda harus sudah memiliki visi keluarga yang jelas dan terang benderang. Visi akan menjadi panduan arah kehidupan rumah tangga anda. Visi adalah pernyataan luhur yang akan anda capai dalam kehidupan keluarga. Visi menggambarkan “siapa jatidiri keluarga anda”.

Ketika keluarga anda memiliki visi untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, untuk mendapatkan surga dunia dan surga akhirat, untuk mewujudkan sukses dunia dan sukses akhirat, maka visi ini harus dikuatkan dan diinternalisasikan dalam sepanjang perjalanan kehidupan keluarga.
Kelak ketika terjadi konflik, ingatlah bahwa visi keluarga anda ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, ingin memperoleh surga dunia dan akhirat. Ini akan meredam konflik dan mampu menghindarkan potensi negatif konflik sehingga tidak merusak keharmonisan keluarga.

Continue Reading...

Video Athar Bersama Nenek dan Kak Daniel

Monday, July 23, 2012

                                        Video Athar Bersama Nenek dan Kak Daniel
Continue Reading...

Tarbiyah Imaniyah Bagi Anak

Tuesday, July 17, 2012

Salah satu aspek yang sering kita lupakan dalam mendidik anak-anak adalah tarbiyah ruhiyah. Jangankan untuk anak, untuk diri sendiri pun kita sering lupa dengan tarbiyah bentuk ini. Padahal, seperti halnya akal dan pikiran perlu mendapat pendidikan, ruh kitapun wajib mendapatkan haknya.
 
Untuk mendidik akal dan meningkatkan kapasitas intelektual orang tua menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah favorit. Tetapi dalam masalah pendidikan keimanan seringkali enggan memberi porsi yang cukup. Bahkan tidak perduli walaupun sekolah tersebut tidak memberikan pendidikan Islam yang memadai.

Iman merupakan hal asasi dalam kehidupan seorang muslim, sedang tarbiyah merupakan kebutuhan pokok setiap insan.

Tarbiyah imaniyah adalah tarbiyah yang ditujukan untuk meningkatkan iman, ma'nawiyah (mentalitas), akhlaq (moralitas), dan syakhsyiyah (kepribadian) daripada mutarobiyyin (anak didik).

Iman kepada Allah dan hari akhir wajib mendapat pupuk yang menyegarkan, disiram dengan air agar terus menerus tumbuh di lahannya secara bertahap dan tawazun (seimbang) menuju kesempurnaan. Iman tumbuh subur karena didasari hubungan yang intens dengan Allah dalam berbagai bentuknya. Cobalah simak hasil tarbiyah pada seorang anak di masa salaf dahulu.

Abdullah bin Dinar berkisah tentang perjalanannya bersama Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengatakan, "Saya bersama Umar bin Khattab r.a. pergi ke Makkah dan beristirahat di suatu tempat. Lalu terlihatlah anak gembala dengan membawa banyak gembalaannya turun dari gunung dan berjumpa dengan kami. Umar bin Khattab berkata,
"Hai penggembala, juallah seekor kambingmu itu kepadaku!"
Anak kecil penggembala itu menjawab, "Aku bukan pemilik kambing ini, aku hanya seorang budaknya."Umar menguji anak itu, "Katakanlah kepada tuanmu bahwa salah seekor kambingnya dimakan srigala."
Anak itu termenung lalu menatap wajah Umar, dan berkata, "Maka di manakah Allah?"

Mendengar kata-kata yang terlontar dari anak kecil ini, menangislah Umar. Kemudian beliau mengajak budak itu kepada tuannya kemudian memerdekakannya. Beliau berkata pada anak itu, "Kalimat yang telah engkau ucapkan tadi telah membebebaskanmu di dunia ini, aku harap kalimat-kalimat tersebut juga akan membebaskanmu kelak di akhirat."
Kejadian di atas menunjukkan salah satu pengaruh dari pengenalan terhadap Allah. Kejadian serupa itu sudah sangat jarang terjadi saat ini. Sekarang ini, di masyarakat kita kejujuran dan kebenaran seolah sudah tak ada harganya. Coba bandingkan dengan sikap Umar yang menghargai anak tersebut dengan membebaskannya dari perbudakan.
Mungkin timbul pertanyaan: bagaimanakah seorang anak kecil di masa itu bisa menjadi begitu yakin dengan pengawasan Allah (muroqobatullah) yang berlaku pada setiap manusia?

Keyakinan lahir dari suatu pendidikan dan latihan yang benar. Di mana kekhalifahan Umar, masyarakat Islam sudah terbentuk dan masyarakat ini menghasilkan bi'ah (lingkungan) yang baik bagi anak tersebut, kendati ia berada di gurun. Pengaruh sistem pendidikan Islam telah merembes ke berbagai tempat sehingga setiap orang benar-benar meyakini dan menghayati syariat Allah.

Tarbiyah imaniyah untuk anak-anak merupakan satu pendidikan yang meliputi hal-hal berikut:
1. Upaya melaksanakan dan menghayati nilai-nilai ibadah kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW.

2. Pembiasaan dalam mengingat Allah (dzikrullah) dengan membaca ayat-ayat Al Qur'an atau dengan menyebut-nyebut nama Allah dengan cara yang tepat di saat-saat tertentu.

3. Membiasakan merasakan adanya bimbingan Allah dalam melaksanakan kebaikan dan pengawasan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Yaitu dengan menghubungkan kejadian-kejadian sehari-hari yang dialaminya dengan kekuasaan Allah.

4. Membiasakan menggantungkan diri kepada Allah misalnya dengan berdo'a dalam berbagai situasi dan kondisi.

5. Meningkatkan akhlak (perilaku) yang baik dengan mencontohkan tindakan-tindakan baik dan memperbaiki perilakunya pada saat anak melakukan keburukan.

6. Memberikan motivasi dan rangsangan dengan memuji atau memberi hadiah ketika anak berbuat baik, memberi manfaat kepada orang lain, atau menyenangkan orang lain kendati orang tersebut tidak menyadarinya.

7. Membimbing hal-hal lain untuk yang berhubungan dengan pendekatan diri kepada Allah.

Metode Tarbiyah
Pembekalan keimanan bagi anak-anak berorientasi pada penyiapan pemahaman dan pembiasaan berbagai hal yang kelak dapat menolong anak untuk melakukan sendiri berbagai kegiatan yang dapat memelihara ruhiyahnya.
Anak-anak sebenarnya lebih mudah menerima hal-hal yang bersifat teoritis kendati bersumber dari alam ghaib (tidak nampak). Karena secara fitrah mereka mudah mempercayai orang tua, guru, atau kawan dekatnya. Anak-anak senantiasa jujur dan tidak mau didustai seperti pada kisah Umar bin Khattab di atas. Ini menunjukkan bahwa kejujuran mereka amat mudah mendekatkan mereka kepada Allah.

Tarbiyah imaniyah untuk anak-anak dapat diberikan dengan jalan:
1. Dengan Contoh dan Keteladanan
Anak-anak adalah makhluk yang paling senang meniru. Orang tuanya merupakan figur dan idolanya. Bila mereka melihat kebiasaan baik dari ayah ibunya, maka mereka pun akan dengan cepat mencontohnya. Orang tua yang berperilaku buruk akan ditiru perilakunya oleh anak-anak. Anak paling mudah mengikuti kata-kata yang keluar dari mulut kita. Misalnya dalam mensyukuri segala nikmat yang diperoleh dalam keluarga. Kepada anak harus senantiasa diingatkan betapa semua rezeki bersumber dari Allah. Apabila kita memberi pisang kepada anak misalnya, sempatkanlah bertanya , "Darimana pisang ini, Nak?" "Dari Umi," jawab si anak. "Ya. Tetapi sebenarnya pisang ini pemberian Allah kepada kita. Allah menyampaikannya melalui Umi."
Dengan cara demikian, dalam peristiwa sederhana ini kita mencontohkan bagaimana mengingatkan Allah dan mensyukuri pemberian-Nya. Mengucapkan hamdalah ketika menerima sesuatu dan menjelaskan kepada mereka bahwa semuanya merupakan kasih sayang Allah dan merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat dipungkiri.  Demikian pula mengucapkan insya Allah, subhannallah, dan berbagai ungkapan tasbih lainnya akan dicontohkan oleh anak.

2. Dengan Latihan dan Pembiasaan
Banyak pembiasaan ibadah harus dilakukan pada anak. Misalnya pembacaan do'a pada tiap-tiap kesempatan dan menguraikan maksud dan isi do'a tersebut. Di setiap munasabah, ada do'a yang pantas diucapkan. Mau makan, minum, tidur, mau belajar, mau berwudhu, menaiki kendaraan, dan lain-lain ada do'a yang khas untuknya. Anak-anak sangat mudah menghafalkan do'a-do'a ini. Apalagi bila di sekolah mereka mendapat program khusus mengenai do'a ini. Tetapi pengamalan do'a-do'a tersebut sangat tergantung pada pengawasan orang tua.  Biar pun anak mampu menghafal seratus do'a di sekolah atau madrasahnya, dia tidak akan mampu meningkatkan imannya bila tidak ada pengamalan dan penghayatannya. Secara rutin dan teratur ayah atau ibu hendaknya membimbing anak membiasakan pembacaan do'a ini, menjelaskan dan memberi pengertian tentang nilai-nilai kandungannya.
Pembiasaan lain yang perlu dilakukan semenjak dini antara lain:
- Membawa anak-anak ke masjid, beri'tikaf, serta mencintai dan menghormati jamaahnya.
- Memberikan perhatian khusus agar anak senantiasa membaca Al Qur'an secara rutin.

3. Dengan Nasihat dan Bimbingan
Orientasi nasihat dan bimbingan bertujuan mengingatkan anak terhadap pengawasan Allah di mana pun mereka berada. Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa sewaktu masih anak-anak, beliau pernah dibonceng Rasulullah di atas untanya. Perjalanan yang mengasyikkan ini digunakan Rasulullah untuk menasihati Ibnu Abbas. Waktu itu Rasulullah SAW berkata, "Hai anak, jagalah semua perintah Allah, niscaya Allah memeliharamu. Periharalah semua perintah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Apabila engkau memohon sesuatu, mohonlah hal itu kepada Allah, dan bila meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya seluruh masyarakat sepakat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka semua manfaat itu hanyalah Allah yang menentukannya, dan bila mereka akan berbuat jahat kepadamu, maka kejahatan itu tidak akan menimpamu kecuali yang telah ditetapkan Allah pula. Terangkat qalam dan keringlah pena." (At-Turmudzi)

4. Dengan Pengarahan dan Pengajaran
Bila nasihat disampaikan di mana saja, di tempat-tempat di mana orang tua (murobbi) berinteraksi dengan anak didiknya, maka pengarahan dan bimbingan mengambil waktu dan tempat tertentu misalnya seusai shalat Shubuh atau Maghrib berjamaah. Rasulullah pernah memberi pengajaran kepada Ibnu Abbas sebagai berikut, "Periharalah perintah Allah, engkau dapatkan Allah di hadapanmu. Kenalkan dirimu kepada Allah di waktu senang, niscaya Allah akan mengingatmu di saat kesukaran. Ketahuilah bahwa sesuatu yang terlepas darimu tidak akan mengenaimu, dan yang menjadi bagianmu tidak akan terlepas darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu beserta keshabaran, dan kegembiraan itu setelah kesukaran, dan setiap ada kesukaran akan ada kelapangan."
Anak-anak pra sekolah dapat mulai dimasukkan ke TPA di mana mereka mendapatkan arahan dan pengajaran dari guru-guru yang sudah memahami metoda pendidikan keimanan kepada balita.

5. Dengan Bercerita dan Berkisah
Anak-anak sangat senang pada cerita-cerita dan kisah-kisah masa lampau. Apalagi di dalamnya terkandung unsur-unsur heroik dan semangat perjuangan. Islam memiliki khazanah kekayaan sejarah yang sangat besar. Mulai zaman nabi-nabi, Nabi Muhammad dan para sahabat beliau, serta sejarah umat Islamnya. Ibnu Mas'ud berkata, "Kami (generasi sahabat) mengajarkan perang-perang Rasulullah kepada anak-anak kami sebagaimana kami mengajarkan Al Qur'an."
Ayah dan ibu yang bercerita kepada anaknya akan lebih melekatkan anak-anak pada keteladanan dan ibroh (pelajaran) yang dapat diambil oleh anak. Sesungguhnya apabila kita mampu bercerita dengan baik, kisah dari seorang ibu yang lembut dan penuh keakraban insya Allah dapat lebih disukai anak tenimbang acara-acara telivisi. Karena pendekatan cerita sebelum tidur bersifat timbal balik dan mempunyai dampak psikologis yang dibutuhkan anak.

6. Dengan Dorongan, Rangsangan dan Penghargaan
Usia kanak-kanak sangat memerlukan dorongan dan penghargaan ketika meraih sesuatu kendati sangat sederhana. Jangan segan-segan mengucapkan terima kasih kepada anak yang berhasil nilai yang bagus, atau memberi hadiah ketika berhasil dalam salah satu kegiatan. Di dalam hadiah tercermin kasih sayang, karena Rasulullah bersabda, "Saling beri hadiahlah kalian dengan demikian kalian akan saling mencintai." (Al-Hadits)
Bagi seorang anak, perhatian, ciuman, dekapan yang mesra, atau gendongan dapat dipahami sebagai hadiah. Anak yang lebih besar ingin hadiah yang lebih kongkrit. Tak ada salahnya ayah memberi sesuatu ketika anak telah berprestasi dalam peningkatan pribadinya. Misalnya, ketika berhasil menghafal satu surat di antara surat-surat Al Qur'an.

(Dikutip dari Majalah Ummi, No. 9/VIII )
Continue Reading...